ASAL MULA KARANG KEMANISAN

May 20th, 2010 by Leave a reply »
Share

Di kisahkan bahwa ada seorang yang bernama Ki Bendesa Wayahan Mas yang tinggal di Kerobokan. Ki Bendesa Wayahan Mas ini mempunyai putra bernama Ki Bendesa Mas. Putra dari Bendesa Wayahan ini ingin memisahkan diri dari lingkungan keluarganya karena sudah berkeluarga maka ia  meninggalkan Desa Kerobokan dan menuju ke daerah bagian Selatan, bermaksud mencari tempat untuk membangun pemukiman atau tempat tinggal baru. Ki Bendesa Mas dalam perjalanannya menuju ke daerah Selatan mengajak sekitar 40-an orang pengikut setianya. Setelah melakukan perjalanan cukup jauh dan melelahkan, rombongan berhenti dan ingin beristirahat. Di daerah itu  rombongan Ki Bendesa Mas ini ada menemukan pohon yang buahnya kecil-kecil banyak dengan warna hijau kekuning-kuningan, namanya Pohon Cereme.

Rombongan beristirahat dan sambil menikmati bekal makanan yang telah dipersiapkan. Sehabis makan siang, Ki Bendesa Mas menyuruh anak buahnya memetik buah Cereme yang sudah masak, untuk dimakan karena sehabis makan siang. Ia merasakan buah Cereme itu rasanya amat lezat terasa asem manis. Maka Ki Bendesa berpikir bahwa sebaiknya daerah tempat rombongannya beristirahat ini akan dijadikan tempat pemukiman baru. Karena suasananya bagus berada dipinggir pantai. Dan Ki Bendesa Mas memberinya nama Karang Kemanisan. Karang berarti Daerah atau wilayah, Kemanisan berarti manis, karena disana ada  pohon Cereme yang rasa buahnya manis. Kemudian Ki Bendesa Mas memerintahkan kepada semua pengiringnya untuk melakukan perabasan pohon-pohon dan semak-semak belukar di kanan dan kirinya yang susah dilalui yang banyak ditumbuhi pohon bandil yang penuh duri dan cukup membahayakan. Setelah selesai melakukan perabasan dan wilayah itu menjadi bersih, maka dibangunlah pemukiman baru. Di tengah-tengah pemukiman itu Ki Bendesa Mas membangun tempat pemujaan yang sekarang menjadi Pura Desa. Ki Bendesa Mas membangun rumah di dekat Pura Desa itu. Dibawah pimpinan Ki Bendesa Mas seluruh pengiringnya hidup bahagia gemah ripah loh jinawi.

Kemudian diceritakan bahwa hubungan antara Raja Mengwi dan Raja Badung semakin merenggang. Sering terjadi keributan dan perampokan di daerah pesisir yang dilakukan oleh orang-orang dari Mengwi, karena kerajaan Mengwi sangat erat hubungannya dengan Jimbaran dan Pura Ulun Suwi, sehingga ketika meraka ke Jimbaran pasti melewati Desa Karang Kemanisan. Dalam perjalanan itulah orang-orang Mengwi membuat keributan dan merampok anak buah Ki Bendesa Mas.

Untuk memperkuat pertahanan di Daerah Karang Kemanisan, maka Ki Bendesa Mas bermaksud untuk memohon salah seorang putra Ida Betara Maharaja Sakti di puri Pemecutan untuk di jadikan sesungsungan. Singkat cerita, dikabulkanlah permohonan Ki Bendesa, maka Ida Betara Sakti merelakan seorang putranya yang bernama Kyai Lanang Munang agar mau ke Karang Kemanisan dan tinggal di sana. Kyai Lanang Munang meninggalkan Puri Agung Pemecutan menuju Karang Kemanisan dikawal oleh Ki Gde Bandem warga Dalem Tarukan, bersama warga Pasek Gegel dari Alangkajeng dan Pedungan. Setelah sampai di Karang Kemanisan beliao membangun tempat tinggal kira-kira berjarak sekitar 500 meter di sebelah selatan Pura Desa menghadap ke Barat, dan di halaman pekarangan itu belio menaman pohon Cempaka. Kyai Lanang Munang lalu merubah nama Karang Kemanisan menjadi Desa Legian. Karang berarti Desa, Kemanisan berarti Legi. Lalu beliao juga merubah namanya menjadi Kyai Lanang Legian. Semenjak Kyai Lanang Legian bersama pengawalnya berada di Desa Legian, keadaan dan situasi keamanan bertambah mantap dan tidak ada orang-orang Mengwi yang berani melakukan keributan dan perampokan lagi. Setelah keadaan mantap dan aman, lalu Ki Gde Bandem mohon diri kembali ke Badung, dan warga Pasek Gegel tetap ingin mengiring belio menetap di Legian menjadi Pekandelan Jero, sehingga dibangunlah Bale Banjar yang di berinama Banjar Pekandelan.

Di wilayah bagian timur Desa Legian yang sekarang bernama Margaya, banyak ditumbuhi pohon bandil yang banyak durinya dan cukup berbahaya. Dan Juga dialiri oleh sungai dan sungai ini sering meluap airnya jikalau musim hujan dan menimbulkan kembanjiran yang besar, sehingga Kyai Lanang Munang, tiap-tiap ada petirtan di Puri Agung Pemecutan tidak dapat menyeberang sungai karena banjir dan dalan berbahaya. Lalu belio membangun tempat pemujaan, yang dinamakan Pura Agung, dari situlah belio ngaturan sembah sujud kehadapan Ida Betara Hyang Kawitan Pemerajan Agung Pemecutan.

Sumber :  Buku Penggali dan Peneliti Sejarah Kyai Agung Lanang Dawan dan Sejarah Raja-raja di Tabanan dan Badung.

Advertisement

Comments are closed.